Tekan Dampak Tutupnya PG GMM Blora, Anggota DPR RI Rina Sa'adah Lobi Langsung Menteri Pertanian


Jakarta,BLORACRISISCENTER.COM
– Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Rina Sa'adah, melaporkan langsung dampak terhentinya operasional PT Gendhis Multi Manis (GMM) Kabupaten Blora kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut aspirasi Paguyuban Petani Tebu Kabupaten Blora dalam audiensi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Rina menegaskan bahwa penutupan PG GMM tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan teknis industri semata. Ia menilai permasalahan ini telah menjelma menjadi krisis ekonomi masyarakat yang merambah luas hingga ke sektor-sektor di luar pertanian.

"Kami sampaikan kepada Pak Menteri bahwa persoalan di Blora ini darurat. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga buruh angkut, sopir, pedagang kecil, hingga warung makan yang selama ini hidup dari denyut nadi pabrik gula. Ini bukan lagi masalah perusahaan, ini masalah rakyat," ujar Rina di Kompleks Parlemen, Rabu.

Menurut politisi PKB tersebut, kondisi di lapangan memaksa petani mengirim tebunya ke pabrik gula di luar daerah seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibatnya, biaya transportasi membengkak, sementara kualitas dan rendemen tebu menurun drastis karena waktu giling yang molor. Kondisi ini, lanjut Rina, berpotensi menekan pendapatan petani hingga 40 persen pada musim panen mendatang.

Rina berkomitmen akan mengawal persoalan ini melalui mekanisme Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kementerian Pertanian, Perum Bulog, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian BUMN. Ia mendorong agar pemerintah segera menyusun skema darurat, termasuk kemungkinan relokasi giling tebu Blora ke PG lain dengan subsidi ongkos angkut.

"Kami minta solusi dalam 14 hari ke depan sebelum masa panen raya. Jangan sampai petani tebu Blora yang sudah terpuruk justru semakin terlindas," tegasnya.

Langkah Rina tersebut mendapat apresiasi dari perwakilan petani. Koordinator Audiensi Petani Tebu Blora, Exi Wijaya, menyatakan lega karena aspirasi mereka akhirnya menyentuh level pengambil kebijakan tertinggi di sektor pertanian.

"Kami berterima kasih kepada Ibu Rina yang cepat merespon. Beliau tidak hanya mendengar, tapi langsung bergerak ke Menteri. Yang kami butuhkan sekarang adalah tindakan nyata, bukan sekadar janji. Agar petani tidak terus menjadi korban kebijakan yang tidak berpihak," ujar Exi.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Petani Tebu Blora, Anton Sudibyo, menyatakan harapannya agar langkah politik ini segera membuahkan hasil. Ia menekankan bahwa keberlangsungan ribuan keluarga di Blora saat ini berada di ujung tanduk.

"Kami sangat mengapresiasi perjuangan Ibu Rina. Suara petani Blora mulai terdengar di Senayan. Kami berharap perhatian pemerintah tidak berhenti di RDP, tetapi segera diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang melindungi petani. Sudah cukup petani menjadi pihak yang paling menderita karena persoalan yang bukan mereka ciptakan," pungkas Anton.(Red)

Lebih baru Lebih lama