BLORA,BLORACRISISCENTER.NEW– Kondisi jembatan penghubung antara Dukuh Sambonganyar, Desa Turirejo, dengan Dukuh Brumbung, RT 08/RW 06, Desa Brumbung, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, dikabarkan mengalami kerusakan serius. Sejumlah papan kayu pada konstruksi jembatan tampak lapuk akibat faktor usia dan paparan cuaca ekstrem, sehingga membahayakan keselamatan pengguna jalan yang melintas setiap hari.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan terparah terjadi pada bagian lantai jembatan yang terbuat dari susunan papan kayu. Beberapa papan sudah keropos bahkan patah, menyisakan lubang yang cukup lebar. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya pagar pengaman di kedua sisi jembatan.
Warga Cemas, Khususnya Saat Malam dan Hujan
Sutrisno (52), warga Sambonganyar yang setiap hari melewati jembatan tersebut untuk pergi ke ladang, mengaku selalu ketakutan saat melintas.
"Setiap lewat, rasanya deg-degan. Apalagi kalau malam atau hujan turun, papan-papan itu licin dan bunyinya sudah kreak-kreak. Saya khawatir sewaktu-waktu ambrol," ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/6/2026).
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Lasmini (40), seorang ibu rumah tangga yang anaknya harus menyebrangi jembatan itu setiap hari menuju sekolah. "Saya sering mengantar anak sampai seperempat jalan karena takut jembatannya tidak kuat. Anak-anak kecil kalau lewat sendirian sangat berisiko," tuturnya.
Akses Vital Sehari-hari dan Ekonomi
Jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan dua wilayah padat penduduk di Kecamatan Jepon. Masyarakat dari Sambonganyar menuju pusat kecamatan, pasar, sekolah, serta perkantoran di Desa Brumbung dan sekitarnya wajib melewati jembatan ini. Sebaliknya, warga Brumbung juga menggunakannya untuk mengakses lahan pertanian dan perkebunan di sisi Sambonganyar.
Kerusakan jembatan langsung berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Pengangkutan hasil pertanian seperti padi, jagung, dan sayuran harus mengurangi muatan secara drastis. "Biasanya sekali angkut bisa 10 karung, sekarang paling hanya 5 karung. Itu pun harus pelan-pelan dan dituntun, tidak boleh naik motor sambil membawa muatan. Otomatis ongkos angkut membengkak dan penghasilan kami turun," keluh Karto (45), petani setempat.
Longsor di Jalur Alternatif Perburuk Keadaan
Kepanikan warga semakin bertambah karena jalur alternatif melalui wilayah Sumurboto juga ikut terdampak longsor beberapa waktu lalu. Akibatnya, tidak ada pilihan jalan lain yang aman bagi warga Sambonganyar untuk keluar menuju pusat kota atau wilayah sekitarnya.
"Kami seperti terjebak. Dua akses sama-sama rusak. Kalau jembatan ini putus total, kami tidak bisa keluar masuk desa sama sekali," kata Parmin (60), tokoh masyarakat Dukuh Sambonganyar.
Warga Desak Pemerintah Segera Turun Tangan
Menurut pengakuan warga, kondisi jembatan yang memprihatinkan ini sudah berlangsung lebih dari enam bulan, namun hingga kini belum ada penanganan yang signifikan dari pihak terkait. Masyarakat hanya mendapat janji survei tanpa tindak lanjut yang jelas.
Warga setempat berharap Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) serta aparat Kecamatan Jepon segera melakukan pengecekan lapangan secara menyeluruh. Mereka meminta agar perbaikan atau pembangunan ulang jembatan dilakukan secepatnya mengingat tingkat kerusakan yang sudah sangat parah.
"Kami tidak meminta yang mewah. Yang penting jembatan bisa dilalui dengan aman oleh pejalan kaki, sepeda motor, dan kendaraan roda tiga pengangkut hasil tani. Keselamatan warga tidak bisa ditawar lagi," tegas Parmin.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kecamatan Jepon belum memberikan keterangan resmi terkait langkah penanganan jembatan tersebut. Warga berharap adanya respons cepat sebelum terjadi musibah yang tidak diinginkan. (Tofik)

